Sejarah Sampara

Latar belakang sejarah Sampara yaitu Sampara merupakan salah satu wilayah dikerajaan Konawe yang memiliki peranan penting dalam hal pertahanan lautnya. Sampara dikenal memiliki Kapita Lau atau Kapita Bondoala (Panglima Angkatan Laut) yang juga merupakan salah satu dewan kerajaan Konawe yang disebut “Opitu Dula Batuno Konawe” yang bertugas menjaga pertahanan di wilayah perairan di Kerajaan Konawe. Pada awal masuknya Belanda di Kerajaan Konawe pada tahun 1906, dan menguasai hampir seluruh wilayah di Sulawesi Tenggara. Pada masa awal pemerintahan Belanda terjadi beberapa perubahan besar baik dibidang sosial maupun bidang politik, yaitu kerajaan Konawe yang awalnya Siwole Mbatohu dan Pitu Dula Batuno Konawe serta Tolumbulo Anakia Mbuutobu menjadi distrik dan onderafdeling. Sampara pada awal pemerintahan Belanda Berada di bawah onderafdeling Kendari pada masa Kerajaan Laiwui. Kemudian pada tanggal 24 januari 1942 Jepang berhasil mengambil alih kerajaan Laiwui dari Belanda, kedatangan Jepang awalnya disambut baik oleh masyarakat dan bangsawan tetapi lama-kelamaan berubah menjadi kebencian karena masyarakat sangat tertekan mereka disuruh bekerja secara paksa jika melawan maka mereka akan di hukum bahkan sampai terbunuh. Akhir kekuasaan Jepang yaitu pada tanggal 17 Agustus 1945 setelah diproklamirkan kemerdekaan Indonesia.

Pembentukan Kecamatan Sampara, Berdasarkan surat keputusan Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan Tenggara yang isinya adalah tentang pembubaran Distrik yang harus disusul dengan pembentukkan wilayah Kecamatan. Dengan berdasarkan surat keputusan tersebut dimana Kabupaten Kendari pada waktu itu terdiri 19 Distrik yang direalisir menjadi 7 wilayah administratif Kecamatan. Kemudian dengan surat keputusan Gubernur kepala daerah Provinsi Sulawesi Tenggara tanggal 7 Juli 1964 tentang penambahan jumlah wilayah Kecamatan dan didalamnya termasuk wilayah Kecamatan Sampara dengan ibu kotanya Pohara.

Faktor-faktor yang melatarbelakangi terbentuknya Kecamatan Sampara adalah (1) faktor geografi, sangat berpengaruh terhadap pembentukan identitas suatu kelompok masyarakat yang akhirnya akan berkembang menjadi satu kesatuan sosial. (2) faktor sosial budaya, akan membentuk karakter dan identitas yang kuat terhadap masyarakat, begitu pula halnya yang terjadi di wilayah Kecamatan Sampara. (3) faktor demografi merupakan faktor pendukung dari proses terbentuknya wilayah Kecamatan Sampara, jika ditinjau secara historis banyak dari wilayah-wilayah otonom yang dibentuk berdasarkan kepadatan penduduknya (4) faktor Sejarah, faktor ini mengasumsikan bahwa struktur sejarah kepemerintahan dimasa lalu dari suatu masyarakat akan berpengaruh terhadap keinginan masyarakat untuk menjadikan suatu wilayah menjadi Kecamatan.


A PHP Error was encountered

Severity: Core Warning

Message: PHP Startup: Unable to load dynamic library '/usr/local/lib/php/extensions/no-debug-non-zts-20131226/memcache.so' - /usr/local/lib/php/extensions/no-debug-non-zts-20131226/memcache.so: cannot open shared object file: No such file or directory

Filename: Unknown

Line Number: 0

Backtrace: